GAE DALAM KEHIDUPAN NELAYAN MANDAR DI PAMBUSUANG SULAWESI BARAT

Syamsul Bahri

Abstract


Gae dalam kehidupan nelayan Mandar merupakan alat tangkap yang familiar karena diprediksi sebagai sebuah karya budaya nelayan Mandar di kalangan nelayan Pambusuang, sebuah wilayah yang penduduknya dominan mencari nafkah dengan melaut, di samping usaha di sektor lain. Gae mampu membentuk kelompok atau organisasi kerja karena dalam mengoperasikannya membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, maksimal 14 orang dan minimal 11 orang, dibanding penggunaan beberapa alat tangkap lainnya yang hanya melibatkan satu sampai dua orang. Dengan gae, terbentuk struktur, yaitu ponggawa dan sawi yang masing-masing bekerja sesuai tugasnya, misalnya: sebagai pemimpin dengan pengetahuannya, sebagai juru mudi, sebagai pelepas dan penarik jarring, dan item-item pekerjaan lainnya. Gae dioperasikan dengan cara melingkar pada area pemasangan rumpon, sehingga disebut pukat cincing. Gae hadir dengan tiga komponen utama, yaitu jaring sebagai perangkap, kapal motor sebagai sarana angkutan, dan rumpon sebagai area penebaran. Penggunaan gae tidak dapat dipisahkan dengan kepemilikan bekal pengetahuan tradisional, terutama ponggawa yang posisinya bertanggungjawab penuh saat melaut. Metode penjaringan data menggunakan teknik pengamatan, wawancara mendalam (depth interview), dan studi dokumentasi.

Keywords


gae; nelayan; Pambusuang Mandar

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v8i2.121

Refbacks

  • There are currently no refbacks.