HUBUNGAN BONE DENGAN MANDAR: DARI SETERU MENJADI SEKUTU

Bahtiar Bahtiar

Abstract


Kajian ini bertujuan menjelaskan hubungan antara Kerajaan Bone dengan Kerajaan Mandar (kerajaan yang tergabung dalam Pitu Babana Binanga). Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah berdasarkan perspektif sejarah melalui beberapa tahapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Kerajaan Bone dengan Kerajaan Mandar berawal dengan baik, kemudian bersitegang dalam waktu tertentu. Saat Perang Makassar berakhir yang disertai dengan Perjanjian Bungaya tahun 1667, Belanda dan Arung Palakka berjaya. Arung Palakka menjadi ketua kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan dan memaksakan Mandar takluk kepada Belanda. Namun, Mandar tetap kokoh dan tidak mau tunduk kepada Belanda karena Mandar adalah sekutu Kerajaan Gowa yang tetap setia terhadap Gowa. Sikap Mandar dan Arung Palakka mengakibatkan perlawanan tidak terelakkan. Setelah Mandar mengalami kekalahan, keduanya berubah menjadi sekutu dan sepakat mengadakan perjanjian Lanrisang. Hubungan antar keduanya lebih erat lagi saat Mandar menyerahkan Arung Bakke Todani kepada Arung Palakka yang lari bersembunyi ke Mandar. Arung Bakke Todani merupakan saingan politik Arung Palakka, kemudian diadakan Perjanjian Salemo.


Keywords


hubungan Bone-Mandar; seteru; sekutu

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v7i2.141

Refbacks

  • There are currently no refbacks.