TRANSFORMASI PENGETAHUAN PENANGKAPAN IKAN PADA KOMUNITAS PARENGGE DI KAILI KECAMATAN BISSAPPU, KABUPATEN BANTAENG

Masgaba Umar

Abstract


Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada komunitas nelayan rengge di Kaili, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Metode seleksi data primer yang digunakan adalah wawancara, pengamatan, dan seleksi data sekunder di kantor dinas, kecamatan, kelurahan, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan parengge (nelayan yang menggunakan pukat cincin) di Kaili mulai sejak tahun 2004. Nelayan rengge dari Galesong datang ke Kaili mencari dan menangkap ikan di sekitar perairan Bantaeng. Setelah tidak melaut karena terang bulan atau cuaca buruk, mereka memarkir kapalnya di Pantai Kaili. Mereka kembali ke Galesong beristirahat melalui jalur darat. Menjelang melaut, mereka kembali ke Kaili membenahi alat tangkapnya sambil menunggu berakhirnya terang bulan atau cuaca membaik. Sebagian nelayan dari Kaili dijadikan sebagai sawi oleh pinggawa rengge. Selain itu, terjadi kawinmawin antarnelayan rengge dari Galesong dengan orang Kaili, sehingga sebagian nelayan rengge menetap di Kaili. Dari hubungan tersebut, sebagian nelayan dari Kaili beralih dari palanra ke parengge. Transformasi pengetahuan penangkapan ikan secara tradisional ke modern meliputi penggunaan alat GPS untuk menetukan arah pelayaran, penggunaan fish finder untuk melihat keberadaan ikan di dasar laut, dan penggunaan motorisasi.Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada komunitas nelayan rengge di Kaili, KecamatanBissappu, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Metode seleksi data primer yang digunakan adalahwawancara, pengamatan, dan seleksi data sekunder di kantor dinas, kecamatan, kelurahan, dan sebagainya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan parengge (nelayan yang menggunakan pukat cincin) diKaili mulai sejak tahun 2004. Nelayan rengge dari Galesong datang ke Kaili mencari dan menangkap ikandi sekitar perairan Bantaeng. Setelah tidak melaut karena terang bulan atau cuaca buruk, mereka memarkirkapalnya di Pantai Kaili. Mereka kembali ke Galesong beristirahat melalui jalur darat. Menjelang melaut,mereka kembali ke Kaili membenahi alat tangkapnya sambil menunggu berakhirnya terang bulan atau cuacamembaik. Sebagian nelayan dari Kaili dijadikan sebagai sawi oleh pinggawa rengge. Selain itu, terjadi kawinmawinantarnelayan rengge dari Galesong dengan orang Kaili, sehingga sebagian nelayan rengge menetapdi Kaili. Dari hubungan tersebut, sebagian nelayan dari Kaili beralih dari palanra ke parengge. Transformasipengetahuan penangkapan ikan secara tradisional ke modern meliputi penggunaan alat GPS untuk menetukanarah pelayaran, penggunaan fish finder untuk melihat keberadaan ikan di dasar laut, dan penggunaan motorisasi.

Keywords


Parengge; nelayan Kaili; transformasi; pengetahuan

Full Text:

PDF

References


Abady, H.M. Yusrie. 1988. Spirit Agama di Masyarakat Nelayan Pancana, Kabupaten Barru. Dalam Mukhlis (ed). Dimensi Sosial Kawasan Pantai. Ujung Pandang: P3MP.

Alimuddin, Muhammad Ridwan. 2017. Laut, Ikan Dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar. Sulawesi Barat: Teluk Mandar Kreatif Bekerjasama Armada Pustaka Mandar.

Endraswara, Suwardi. 2012. Metode Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Esten, Mursal. 1999. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Penerbit Angkasa.

Hamid, Pananrangi. 1995. Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan Tradisional di Galesong. Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan

Nilai Tradisional.

Jayanti, I Gusti Ngurah; I Putu Putra Kusuma Yudha; I Wayang Sudharma; A. A. Rai Gria; I Putu Kamasan Sanjaya. 2016. Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan Tradisional Desa Sikka, Kecamatan Lela,

Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Yogyakarta: Penerbit Kepel Press.

Keesing, Roger M. 1981. Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Koentjaraningrat, Budhisantoso, J. Danandjaya, Parsudi Suparlan, E.K.M. Masinanbow, Anrini Sofion. 1984. Kamus Istilah Antropologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rieneka Cipta.

Lopa, Baharuddin. 1982. Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan (Penggalian dari Bumi Indonesia Sendiri). Bandung: Penerbit Alumni.

Mahmud, Irfan; Akin Duli; Muhammad Nur; Anwar Thosibo; Budianto Hakim. 2007. Bantaeng Masa Prasejarah Ke Masa Islam. Makassar: Masagena Press.

Maknun, Tadjuddin. 2012. Nelayan Makassar Kepercayaan, Karakter. Makassar: Identitas Universitas Hasanuddin.

Monawaroh, Siti. 2013. “Strategi Masyarakat Nelayan Dalam Peningkatan Penangkapan Ikan di Desa Sumberejo, Kecamatan

Ambulu Jember” dalam Jurnal Patrawidya Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 14 No. 4. Desember 2013. Yogyakarta (hlm 681-716).

Muaris. 1996. Sistem Kepercayaan Tradisional dalam Masyarakat Nelayan (Studi Kasus Nelayan Torani di Desa Pa’lalakkang Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar). Skripsi. Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin.

Mujianto, Yan; Zaim Elmubarok; Sunahrowi. 2010. Pengantar Ilmu Budaya. Yogyakarta: Pelangi Publishing.

Nari, Markus. 2010. Dinamika Sosial dan Pemekaran Daerah. Yogyakarta: Ombak.

Nuraeni, Heny Gustini & Muhammad Alfan. 2013. Studi Budaya di Indonesia. Bandung: Penerbit Pustaka Setia.

Purwaningsi, Ernawati. 2013. “Dampak Tranformasi Wilayah Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Komparasi Dua Desa di

Koridor Yogyakarta – Surakarta” dalam Jurnal Patrawidya, Vol. 14 No. 1. Maret 2013. Yogyakarta. (hlm 53-74).

Setiadi, Elly M & Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial:Toeri, Aplilkasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana.

Setiadi, Elly M; Kama A. Hakim; Ridwan Effendi. 2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Edisi Ketiga. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Sumaatmadja, Nursid. 2010. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan Hidup. Bandung: Afabeta.




DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v9i1.28

Refbacks

  • There are currently no refbacks.