NAKODAI MARA’DIA ABANUA KAIYANG TOILOPI: SPIRIT NILAI BUDAYA MARITIM DAN IDENTITAS ORANG MANDAR

Tasrifin Tahara, Syamsul Bahri

Abstract


Artikel ini membahas orang Mandar sebagai suku bangsa maritim yang tidak diragukan eksistensinya. Sebagai pemangku kebudayaan maritim dan religius yang taat, tidak dapat dimungkiri keandalan manusia Mandar dalam berbagai arena kehidupan dan selalu memiliki ciri khas yang dapat bernilai positif. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan penelitian di Polewali Mandar dan Majene. Adapun teknik pengumpulan data dengan studi pustaka, pengamatan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai suku bangsa maritim, sangatlah urgen untuk melakukan penggalian nilai-nilai luhur masyarakat Mandar yang selalu menonjol dalam berbagai arena sosial, ekonomi dan politik. Orang Mandar memiliki nilai budaya yang khas yang selalu unggul dalam berbagai arena sosial, politik, hukum dan ekonomi. Bangsa Indonesia memiliki Baharuddin Lopa dan Basri Hasanuddin yang mewarnai peradaban Indonesia. Nilai-nilai luhur takkalai disombalang dotai lele rapu dadi na tuali di lolangan.” Orang Mandar menjunjung tinggi halhal yang baik, benar dan mulia. Nilai ini mengisyaratkan bahwa mereka bercita-cita menjadikan wilayahnya “Mandar masagena na mala bi” yang berarti “wilayah Mandar yang terpandang dan mulia.” Nilai-nilai inilah menjadi penopang kebudayaan Mandar sehingga melahirkan manusia Mandar yang selalu unggul dalam berbagai arena sebagai identitas suku bangsa maritim.

Keywords


nilai budaya; Mandar; maritim

Full Text:

PDF

References


Alimuddin, Muhammad Ridwan. 2005. Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut, Yogyakarta: Ombak.

Badaruddin, Makmun et al. 1983. Pemetaan Suku Bangsa Daerah Sulawesi Selatan. Naskah tidak dipublikasikan.

Hamid, Abd Rahman, 2017. Jaringan Pelayaran Mandar dan Perdagangan Rempah di Selat Makassar 1900-194. Makalah Seminar

Nasional: “Rempah Mengubah Dunia”. Makassar: Balai Pelestarian Nilai Budaya.

Keesing, Roger M. Antropologi Budaya; Suatu Perspektif Kontenporer. Jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga.

Knapp, G & H Sutherland. 2004. Mansoon Traders: Ships, Skippers and Commodition in Eighteenth-Century Makassar. Leiden: KITLV Press.

Koenjaraningrat. 1980. Pengantar Antropologi. Jakarta: Gramedia.

Lampe, Munsi, 2009. Buku Ajar Mata Kuliah Wawasan Sosial Budaya Bahari (WSBB), Makassar: UPT MKU Unhas.

Mattulada, 1983. “Kebudayaan Bugis-Makassar”, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Koentjaraningrat, ed). Jakarta: Djambatan.

Myala, Fahmy. 1987. “Mandar, Sebuah Suku dan Kebudayaan”, Kompas, 27 Desember.

Spradley, James P, 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Pelras, C. 1996. The Bugis. Oxford: Blackwell. Prins, AHJ, 1965. Sailing from Lamu: a Study of Maritime Cultural Islamic East Africa.

(Disertasi), Assen.

Tsing, Anna Lowenhaupt, 1993 In The Realm of the Diamond Queen, Marginality in an Out the Way Place, Pricenton University Press.

https://id.wikipedia.org/wiki/Baharuddin_Lopa




DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v9i2.45

Refbacks

  • There are currently no refbacks.