PELAYARAN NIAGA, BAJAK LAUT, PERKAMPUNGAN PEDAGANG DI GORONTALO

Hasnuddin Hasanuddin

Abstract


Gorontalo memiliki peran strategis dalam jaringan pelayaran niaga karena letak geografisnya di kawasan Teluk Tomini yang menghubungkan Ternate dan Makassar. Selain itu, tersedianya emas, budak, rotan, dan kopra merupakan komoditas yang menarik kedatangan para pedagang. Gorontalo dalam konteks pelayaran niaga menjadi faktor pembentuk struktur sosial dan politik Kerajaan Gorontalo, sehingga mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakatnya. Sebagai sebuah wilayah maritim di bagian utara Sulawesi dengan dinamika sejarah yang memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan dan komunitas-komunitas di sekitarnya, serta kekuasaan kolonial, Sejarah Gorontalo belum terekspos secara akademik dan belum terpublikasi secara memadai sebagai titik penting kekuasaan kolonial dalam format Hindia-Belanda. Mengacu pada masalah tersebut, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi historis Gorontalo, meliputi: posisi Gorontalo dalam jalur pelayaran nusantara, dinamika perdagangan antarpulau, dinamika dan aktifitas bajak laut di perairan Gorontalo, dan kehadiran pemukiman dalam wujud perkampungan pedagang dan pendatang. Secara metodologis, artikel ini merupkan studi sejarah pada masa kolonial Belanda yang bertumpu pada penelitian pustaka dan arsip, terutama dari masa kolonial yang relevan dengan topik artikel ini. Akhirnya, artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa jaringan maritim Gorontalo menjadi salah satu faktor penting terbentuknya integrasi di kawasan perairan Sulawesi bagian timur, baik dalam arti komunitas maupun koneksi antarkerajaan dan kekuasaan. Para pedagang dan pendatang menjadi faktor pembentuk komunitas yang berkarakter majemukdi Gorontalo yang dapat disaksikan hingga kini. Kondisi tersebut melahirkan situasi baru melalui hubungan intensif antara pendatang baru dengan penduduk setempat, sehingga memperlihatkan proses kultural yang dinamis dengan berbagai latar belakang yang berbeda, lalu ditemukan kampung Bugis, Donggala, Tamalate, Minahasa, Cina, dan Arab, yang kesemuanya itu berperan dalam pengembangan jaringan pelayaran niaga di Gorontalo

Keywords


pelayaran niaga; bajak laut; perkampungan pedagang; Gorontalo

Full Text:

PDF

References


ANRI

Bundel Ternate, Nomor 131.

ANRI. 1976. Inventaris Arsip Gorontalo 1810- 1865. Jakarta: ANRI.

Kartodirdjo, Sartono, dkk. 1973. Ikhtisar Keadaan Politik Hindia-Belanda Tahun 1839-1848. Penerbitan Sumber-Sumber Sejarah No. 5. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.

Koloniaal Verslag, Tahun 1874.

Farid, Andi Zainal Abidin. 1983. Persepsi Orang Bugis, Makassar Tentang Hukum, Negara dan Dunia Luar. Bandung: Alumni.

Gottshalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Nugroho Notosusanto (terj.). Jakarta: UI Press.

Haga, B. J. 1931. De Lima-pahalaä (Gorontalo): Volksordening Adatrecht en Bestuurspolitiek, LXXI. Bandoeng: A.C Nix.

Hasanuddin dan Basri Amin. 2012. Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Henley, David. 2005. Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600-1930. Leiden: KITLV.

Hoevel, G. W. W. C Baron van. 1891. “Onder Rechtstreeksch Bestuur Is Gebracht”, De Assistant-Residentie Gorontalo. Leiden: E.J. Brill.

Juwono, Harto dan Yosephine Hutagalung. 2005. Limo Lo Pohalaa: Sejarah Kerajaan Gorontalo. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Kartodirdjo, Sartono. 2014. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Benteng.

Lapian, Adrian B. 1987. Orang Laut-Bajak Laut- Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

-----------------.1997. “Laut, Pasar dan Komunikasi Budaya”, Kongres Nasional Sejarah 1996 Sub Tema Dinamika Sosial Ekonomi III. Jakarta: Depdikbud, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

-----------------. 2011. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu.

Lipoeto, M. H. 1943. Sedjarah Gorontalo, Doea Lima Pahalaa. Jilid 1. Gorontalo: Pertjetakan Ra’jat.

Mahan, Alfred Thayer. 1890. The influence of. sea power upon history 1660-1783. Cet. 1. London : University Paperbacks.

Mu’jizah. 2009. Iluminasi Dalam Surat-Surat Melayu Abad Ke-18 dan Ke-19. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama École franςaise d’ Extrême-Orient, Pusat Bahasa-Departemen Pendidikan

Nasional, KITLV-Jakarta.

Musschenbroek, S.C.J.W van. 1880. “Toelichtingen Behoorende Bij de Kaart van de Bocht van Tomini of Gorontalo en Aangrezende Landen, Tijdschrift voor Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap (TNAG), Jilid IV.

Perpustakaan Nasional, III D, 1/22. Laporan Raja Bolango Abdullatif bin Muhammad Saleh Tilahungga Wadilapa.

Poelinggomang, Edward L. 2002. Makassar Abad XIX. Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Riedel, G.J.F. 1869. “Het landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Katinggola of Andagile: geographische, statistische, historische en ethnographische aanteekeningen”, dalam Tijdschrijt voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG), XIX.

Rosemberg, C.B.H von. 1865. Reistogten in de afdeeling GorontaIo, gedaan op last der NederIandsch Indische regering. Amsterdam: Muller.

Tacco, Richard. 1935. Het volk van Gorontalo (historich traditioneel maatschappelijk cultureel sociaal, karakteristiek en economisch). Gorontalo: Yo Un Ann.

Velthoen, Esther. 2010. “Pirates in the Periphery: Eastern Sulawesi 1820-1905”, Pirates, Ports, And Coats In Asia (Historical and Contemporary Perspectives). John Kleinen dan Manon Osseweijer (ed.). Series on Maritime Issues and Piraty in Asia. Singapore: IIAS/ISEAS.

“Brieven Uit De Groote Oost”, Bataviaasch Nieuwsblad, tanggal 1 Desember 1928, lembar ke-17.




DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v9i2.46

Refbacks

  • There are currently no refbacks.