EKSISTENSI KOMUNITAS PENENUN BUGIS (Sebuah Refleksi Sosio-Kultural Masyarakat Wajo)

Andi Ima Kesuma

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang sistem ekonomi lokal yang dikembangkan oleh masyarakat penenun di Wajo atas dasar kearifan lokal serta proses transformasi yang dilalui penenun agar dapat bertahan. Hal ini ditunjang oleh adanya kelekatan tindakan penenun pada struktur sosial masyarakat Bugis-Wajo dan jaringan sosial yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi yang berusaha memberikan gambaran secara komprehensif mengenai lokalitas tertentu yang berbeda di tempat lain. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo sebagai pusat pengembangan kegiatan pertenunan di Provinsi Sulawesi Selatan. Sasaran penelitian adalah masyarakat yang terlibat dalam kegiatan usaha tenun yang bermukim di lokasi penelitian pada saat penelitian ini dilaksanakan, baik penenun gedogan, penenun ATBM skala rumah tangga, maupun pengusaha tenun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan menenun bagi masyarakat Bugis-Wajo merupakan sebuah kearifan lokal (local wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, bernilai baik dan melekat (embedded) dalam kehidupan masyarakat Bugis. Berbagai kearifan lokal yang terkandung dalam fungsi kain tenun bagi masyarakat Bugis adalah (1) kain tenun sebagai pakaian keseharian atau sebagai alat untuk menutup tubuh dalam menahan pengaruh dari alam sekitar; (2) kain tenun sebagai hadiah; (3) kain tenun sebagai simbol status dan gengsi yang dianggap suci; dan (4) kain tenun sebagai benda yang digunakan dalam upacara adat.

Keywords


eksistensi; komunitas; tenun

Full Text:

PDF

References


Assifie, B. 2001. Etnografi dan Metode Observasi Partisipasi dalam Agus Salim (peny). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (pemikiran Norman K. Denzin & Egon Guba, dan Penerapannya). Yogyakarta:

Tiara Wacana.

Geertz, Clifford. 1989. Penjaja dan Raja. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hardiman, F. B. 2004. Kritik Idiologi: Menyikap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Buku Baik.

Idris, Rabihatun., Hasnawi, Haris dan Suraidah, Hading. 2009. Perpaduan Tenun Tradisional Bugis-Malaysia (Penelusuran

Tenunan Tradisional Bugis-Malaysia yang Mencerminkan Hubungan Antar Bangsa). Laporan Hasil Penelitian Fundamental, Makassar: LPM-UNM (Tidak Dipublikasikan).

Kahdar, Kahfiati. 2009. Adaptasi Estetik Pada Corak Lippa Bugis. Bandung: PPS - Institut Teknologi Bandung. Disertasi (Tidak Dipublikasikan).

Kuntowijoyo. 2008. Penjelasan Sejarah (Historycal Explanation). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kuswarno, E. 2009. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: Widya Padjajaran.

Maryaeni. 2005. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara.

Dinas Perindustrian dan UKM Kabupaten Wajo, 2013. Data Pertenunan Gedogan dan ATBM (sutera dan non sutera tiap Kecamatan). Sengkang: Dinas Perindustrian dan UKM Kabupaten Wajo.

Yukimatsu, Keiko. Chantachon, Songkoon,.Pothisane, Souneth., Kobsiripha, Wissanu.2008. The Added Values of Local Silk Textile: Thai-Lao Matmii and Japanese Tumugi Kasuri. SOJOURN: Journal of

Social Issues in Southeast Asia. Volume 23, Number 2, October 2008, pp. 234-251.




DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v9i2.47

Refbacks

  • There are currently no refbacks.