SOKOGURU MARADEKA (DEMOKRASI): LA TADDAMPARE PUANG RI MAGGALATUNG

Bahri Bahri, Andi Dewi Riang Tati

Abstract


Tiap periodisasi pemerintahan di setiap kerajaan memiliki dinamika yang berbeda dan sangat ditentukan oleh raja yang memerintah. Kerajaan Wajo sebelum Pemerintahan Arung Matowa IV, Lataddampare Puang ri Maggalatung, mengalami keterpurukan karena Raja La Pateddungi tidak mampu menjadi pemimpin yang baik bagi rakyatnya. Puang ri Maggalatung pun naik tahta, setelah perjanjian dengan rakyatnya terikrar. Amanah rakyat Wajo kepada Puang ri Maggalatung dijalankan dengan baik. Memimpin secara demokratis, jujur, dan adil menjadi ciri dalam pemerintahannya. Keberhasilan dalam memimpin Kerajaan Wajo dibuktikan dengan wilayah kekuasaan bertambah luas, kehidupan ekonomi stabil, dan struktur pemerintahan berjalan baik sesuai fungsinya, bahkan organisasi perangkat kerajaan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian sejarah, bersifat deskriptif analitik dengan tujuan menemukan dan mendeskripsikan secara analisis serta menginterpretasikan ajaran-ajaran La Taddampare Puang ri Maggalatung. Penelitian sejarah dilakukan melalui empat tahapan, yaitu; heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pada tahap heuristik, kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan sejumlah sumber dan informasi sebanyak mungkin untuk dijadikan data, baik kepustakaan maupun dokumentasi. Kritik sumber telah diperoleh pada kegiatan heuristik, kemudian diseleksi baik bentuk maupun isinya. Setelah ditemukan fakta-fakta yang relevan, tahap selanjutnya adalah menginterpetasikan fakta-fakta yang beragam atau berdiri sendiri untuk dijadikan suatu kisah sejarah yang utuh. Interpretasi merupakan penyebab timbulnya subjektivitas penulis. Historiografi adalah tahapan terakhir dari seluruh rangkaian metodologi penulisan sejarah.

Keywords


Puang ri Maggalatung; Kerajaan Wajo; ajaran dan kepemimpinan

Full Text:

PDF

References


Abdullah, Taufik & A. Surjomihardjo. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif. Jakarta: Gramedia.

Abdurahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Abidin, Andi Zainal. (1985). Wajo’ pada Abad XV-XVI: Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan. Bandung:

Alumni.

Atmosudiryo, Prayudi. 1970. Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan, Jakarta: Gung Agung. Darmawati, Besse. “Kearifan Sistem Pemerintahan Puang Rimaggalatung Dalam Lontarak Bugis”. Jurnal Meta Sastra, Vol. 7 No. 1 (2014) http://

ejurnalbalaibahasa.id/.

Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah, Diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.

Halim, Wahyudi. 2016. Eksplorasi Atas Praktik dan Nilai-Nilai Demokrasi dalam Kerajaan Wajo’ Abad Ke-15/16 dan Kompatibilitasnya dengan Sistem Demokrasi Modern, Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 2 Tahun 2016.

Halim, Wahyudi. 2012. Arung, Topanrita dan Anregurutta Dalam Masyarakat Bugis Abad XX, Jurnal Al- Ulum Volume. 12, Nomor 2, Desember 2012.

Kadir, Shaifuddin. 2000, Spirit of Wajo. Sengkang: Yayasan Pena Mas.

Nawir. 2008/2009. Kepemimpinan dan Ajaran-Ajaran La Taddampare Puang Rimaggalatung Sebagai Arung Matowa Wajo ke IV. Makassar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat

Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Paranata, Andi. 1988. Silsilah Raja Wajo, Wajo.

Patunru. Abdul RAzak Daeng. 1983. Sejarah Wajo. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan

Pelras, Christian. 2006. The Bugis. Diterjemahkan dengan judul Manusia Bugis oleh Abdul Rahman Abu, Hasriadi dan Nurhady

Sirimorok. Jakarta: Nalar dan Forum Jakarta Paris, EFEO.

Renier, GJ. 1997. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah, Diterjemahkan oleh Umar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Siagian S.P. 1976. Peranan Staf Dalam Managemen, Jakarta; Gunung Agung.

Sarapang, Simon Sirua dkk. 2012. Tenun Wajo Dalam Menghadapi Badai Krisis Ekonomi 1930-1998. Makassar: De Lamacca.

tn, Catatan Struktur Masyarakat Wajo. 1968. Sengkang

Zuhro, Siti. 2015. Demokrasi Lokal Perubahan dan Kesinambungan Nilai-Nilai Budaya Politik Lokal di Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Bali. Yogyakarta: Ombak.




DOI: https://doi.org/10.36869/wjsb.v9i2.50

Refbacks

  • There are currently no refbacks.